This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 08 April 2016

Tugas 2 (Bahsa Indonesia 2)


Berpikir Induktif & Berpikir Deduktif

Pengertian berpikir deduktif dan induktif:
1)      Deduktif
Deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus. Penarikan kesimpulan secara deduktif biasanya memperunakan pola berpikir yang dinamakan silogismus. Silogismus disusun dari dua buah pernyataan dan sebuah kesimpilan.

2)      Induksi
Induksi adalah cara mempelajari sesuatu yang bertolak dari hal-hal atau peristiwa khusus untuk menentukan hukum yang umum (Kamus Umum Bahasa Indonesia, hal 444 W.J.S.Poerwadarminta. Balai Pustaka 2006).
Induksi merupakan cara berpikir dimana ditarik suatu kesimpulan yang bersifat umum dari berbagai kasus yang bersifat individual. Penalaran secara induktif dimulai dengan mengemukakan pernyataan-pernyataan yang mempunyai ruang lingkup yang khas dan terbatas dalam menyusun argumentasi yang diakhiri dengan pernyataan yang bersifat umum (filsafat ilmu.hal 48 Jujun.S.Suriasumantri Pustaka Sinar Harapan. 2005).

Kosep bernalar dalam karangan
Suatu karya tulis merupakan hasil proses berfikir yang mungkin merupakan hasil deduksi, induksi, atau gabungan di antara keduanya. Suatu tulisan yang bersifat deduktif dibuka dengan suatu pernyataan umum berupa kaidah, teori, peraturan, atau pernyataan lainnya. Sebaliknya, suatu karya tulis yang induktif dibuka dengan rincian-rincian khusus dan diakhiri dengan suatu kesimpulan umum atau generalisasi.
Proses pengembangan gagasan dapat dilakukan dengan :
1)      Urutan kronologis
Ditandai denngan penggunaan kata-kata seperti dewasa ini, sekarang, bila, sebelum, sementara itu, sejak saat itu, selanjutnya. Bentuk tulisan ini biasanya dipergunakan untuk memaparkan sejarah, proses, asal-usul, dan biografi/riwayat hidup.

2)      Urutan spasial
Digunakan untuk menyatakan tempat atau hubungan dengan ruang, biasanya dipakai dengan urutan waktu. Pola ini biasanya menggunakan kata-kata di sini, di situ, di, pada, di bawah, di atas, di tengah, berhadapan, bertolak belakang, bersebrangan, dll.

3)      Urutan alur penalaran
Menghasilkan paragraph deduktif dan induktif.

4)      Urutan kepentingan
Dikembangkan berdasarkan skala prioritas gagasan yang dikemukakan, dari yang paling penting, menuju yang penting, ke yang kurang penting.

Konsep Generalisasi
Merupakan penarikan kesimpulan umum dari pernyataan atau data-data yang ada.
Dibagi menjadi 2 :
a.      Generalisasi sempurna/tanpa loncatan induktif
Fakta yang diberikan cukup banyak dan meyakinkan. Contoh :
-          Sensus penduduk.
-          Jika dipanaskan, besi memuai.
Jika dipanaskan, baja memuai.
Jika dipanaskan, tembaga memuai.
Jadi, jika dipanaskan semua logam akan memuai.

b.      Generalisasi tidak sempurna/dengan loncata induktif
Fakta yang digunakan belum mencerminkan seluruh fenomena yang ada. Contohya :
Setelah kita menyelidiki sebagian Mahasiswa Universitas Gunadarma bahwa mereka adalah manusia yang suka bergotong-royong, kemudian kita simpulkan bahwa Mahasiswa Universitas Gunadarma adalah bangsa yang suka bergotong-royong.

Hipotesis dan Teori
-          Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap masalah yang masih bersifat praduga karena masih harus dibuktikan kebenarannya.
-          Teori adalah serangkaian bagian atau variable, definisi dan dalil yang saling berhubungan yang menghadirkan sebuah pandangan sistematis mengenai fenomena dengan menentukan hubungan antar variable, dengan menentukan hubungan antar variable, dengan maksud menjelaskan fenomena alamiah.

Analogi
Analogi dalam ilmu bahasa adalah persamaan antar bentuk yang menjadi dasar terjadinya bentuk-bentuk yang lain. Analogi merupakan salah satu proses morfologi dimana dalam analogi, pembentukan kata baru dari kata yang telah ada.
Contoh:
Taufik Hidayat adalah Pemin Badminton
Taufik Hidayat bermain Badminton
Taufik Hidayat adalah Pemain Badminton Indonesia

Hubungan Kausal
Kausalitas merupakan prinsip sebab-akibat yang ilmu dan pengetahuan yang dengan sendirinya bisa diketahui tanpa membutuhkan pengetahuan dan perantaraan ilmu yang lain dan pasti antara segala kejadian, serta bahwa setiap kejadian memperoleh kepastian dan keharusan serta kekhususan-kekhususan eksistensinya dari sesuatu atau berbagai hal lainnya yang mendahuluinya, merupakan hal-hal yang diterima tanpa ragu dan tidak memerlukan sanggahan. Keharusan dan keaslian sistem kausal merupakan bagian dari ilmu-ilmu manusia yang telah dikenal bersama dan tidak diliputi keraguan apapun.

Kausalitas dibangun oleh hubungan antara suatu kejadian (sebab) dan kejadian kedua (akibat atau dampak), yang mana kejadian kedua dipahami sebagai konsekuensi dari yang pertama.
Kausalitas merupakan asumsi dasar dari ilmu sains. Dalam metode ilmiah, ilmuwan merancang eksperimen untuk menentukan kausalitas dari kehidupan nyata. Tertanam dalam metode ilmiah adalah hipotesis tentang hubungan kausal. Tujuan dari metode ilmiah adalah untuk menguji hipotesis tersebut.

Induksi Dalam Metode Eksposisi
Eksposisi adalah salah satu jenis pengembangan paragraf dalam penulisan yang dimana isinya ditulis dengan tujuan untuk menjelaskan atau memberikan pengertian dengan gaya penulisan yang singkat, akurat, dan padat.
Karangan ini berisi uraian atau penjelasan tentang suatu topik dengan tujuan memberi informasi atau pengetahuan tambahan bagi pembaca. Untuk memperjelas uraian, dapat dilengkapi dengan grafik, gambar atau statistik. Sebagai catatan, tidak jarang eksposisi ditemukan hanya berisi uraian tentang langkah/cara/proses kerja. Eksposisi demikian lazim disebut paparan proses.
Langkah menyusun eksposisi:
-        --->Menentukan topik/tema
-        ---> Menetapkan tujuan
-         -->Mengumpulkan data dari berbagai sumber
-         -->Menyusun kerangka karangan sesuai dengan topik yang dipilih
-         -->Mengembangkan kerangka menjadi karangan eksposisi.

 SUMBER:
https://skepticalinquirer.wordpress.com/2014/10/22/deduksi-induksi-logika/
http://www.academia.edu/5086030/Filsafat_Ilmu_Berfikir_Induktif_deduktif
http://id.wikipedia.org/wiki/Metode_deduksi
https://prezi.com/dk5elmhiz968/filsafat-metode-berpikir-ilmiah/
http://ramadhanahmad96.blogspot.co.id/2015/10/penulisan-ilmiah-berpikir-induktif-dan.html


Minggu, 06 Maret 2016

Bahasa Indonesia 2

Penalaran

1. Pengertian Penalaran
Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi-proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar.
Ada dua jenis metode dalam menalar
   1. Penalaran Deduktif , yaitu proses penalaran untuk menarik kesimpulan berupa prinsip atau sikap   yang berlaku khusus berdasarkan atas fakta-fakta yang bersifat umum.
   2. Penalaran Induktif, yaitu  paragraf yang diawali dengan menjelaskan permasalahan-permasalahan khusus (mengandung pembuktian dan contoh-contoh fakta) yang diakhiri dengan kesimpulan yang berupa pernyataan umum.

2. Pengertian Proposisi
Proposisi adalah suatu ekspresi verbal dari keputusan yang berisi pengakuan atau pengingkaran sesuatu predikat terhadap suatu yang lain, yang dapat dinilai bener atau salah. Dalam penalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis (antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut dengan konklusi.
Dalam ilmu logika, proposisi mempunyai tiga unsur yakni:
   1. Subyek, perkara yang disebutkan adalah terdiri dari orang, benda, tempat, atau perkara.
   2. Predikat adalah perkara yang dinyatakan dalam subjek.
   3. Kopula adalah kata yang menghubungkan subjek dan predikat.

3. Inferensi dan Implikasi
Inferensi adalah membuat simpulan berdasarkan ungkapan dan konteks penggunaannya. Dalam membuat inferensi perlu dipertimbangkan implikatur. Implikatur adalah makna tidak langsung atau makna tersirat yang ditimbulkan oleh apa yang terkatakan (eksplikatur).
Terdapat 2 jenis metode Inferensi :
    1. Inferensi Langsung, yaitu inferensi yang kesimpulannya ditarik dari hanya satu premis (proposisi yang digunakan untuk penarikan kesimpulan). Konklusi yang ditarik tidak boleh lebih luas dari premisnya.
Contoh : Ban motor ani pecah sedangkan ani besok ingin pergi ke kampus, tetapi ani tidak  mempunyai uang untuk mengganti ban motor.
Kesimpulan : ani besok tidak pergi ke kampus karena ban motornya pecah.
    2. Inferensi Tak Langsung, yaitu inferensi yang kesimpulannya ditarik dari dua / lebih premis. Proses akal budi membentuk sebuah proposisi baru atas dasar penggabungan proposisi-preposisi lama.
Contoh :
A : Anak-anak begitu gembira ketika ibu memberikan bekal makanan.
B : Sayang gudegnya agak sedikit saya bawa.
Inferensi yang menjembatani kedua ucapan tersebut misalnya (C) berikut ini.
C : Bekal yang dibawa ibu lauknya gudek komplit.

Implikasi adalah suatu keterlibatan antara dua buah objek atau lebih. Untuk lebih jelasnya berikut penjelasanya. Contoh :
“Jika matahari bersinar maka udara terasa hangat” Jadi, bila kita tahu bahwa matahari bersinar, kita juga tahu bahwa udara terasa hangat. Karena itu akan sama artinya jika kalimat di atas kita tulis sebagai:
“Bila matahari bersinar, udara terasa hangat”. ”Sepanjang waktu matahari bersinar, udara terasa hangat”. “Matahari bersinar berimplikasi udara terasa hangat”. “Matahari bersinar hanya jika udara terasa hangat”.
Berdasarkan pernyataan diatas, maka untuk menunjukkan bahwa udara tersebut hangat adalah cukup dengan menunjukkan bahwa matahari bersinar atau matahari bersinar merupakan syarat cukup untuk udara terasa hangat.
Sedangkan untuk menunjukkan bahwa matahari bersinar adalah perlu dengan menunjukkan udara menjadi hangat atau udara terasa hangat merupakan syarat perlu bagi matahari bersinar. Karena udara dapat menjadi hangat hanya bila matahari bersinar.

4. Wujud Evidensi
Evidensi adalah semua fakta yang ada, semua kesaksian, semua informasi, atau autoritas, dan sebagainya yang dihubung-hubungkan untuk membuktikan suatu kebenaran. Dalam argumentasi, seorang penulis boleh mengandalkan argumentasinya pada pernyataan saja, bila ia menganggap pembaca sudah mengetahui fakta-faktanya, serta memahami sepenuhnya kesimpulan-kesimpulan yang diturunkan daripadanya. Evidensi itu berbentuk data atau informasi, yaitu bahan keterangan yang diperoleh dari suatu sumber tertentu, biasanya berupa statistik, dan keterangan-keterangan yang dikumpulkan atau diberikan oleh orang-orang kepada seseorang, semuanya dimasukkan dalam pengertian data (apa yang diberikan) dan informasi (bahan keterangan).
Unsur yang paling penting dalam suatu tulisan argumentatif adalah evidensi. Pada hakikatnya evidensi adalah semua fakta yang ada, semua kesaksian, semua informasi, atau autoritas, dan sebagainya yang dihubung-hubungkan untuk membuktikan suatu kebenaran. Fakta dalam kedudukan sebagai evidensi tidak boleh dicampur-adukkan dengan apa yang dikenal sebagai pernyataan atau penegasan. Pernyataan tidak mempunyai pengaruh apa-apa terhadap sebuah evidensi, ia hanya sekedar menegaskan apakah suatu fakta itu benar atau tidak. Dalam ergumentasi, seorang penulis dapat mengandalkan argumentasinya pada pernyataan saja, bila ia mengganggap pendengar sudah mengetahui fakta-faktanya, serta memahami sepenuhnya kesimpulan-kesimpulan yang diturunkan kepadanya.
Dalam wujudnya yang paling rendah evidensi itu berbentuk data atau informasi. Yang dimaksud dengan data atau informasi adalah bahan keterangan yang diperoleh dari suatu sumber tertentu. Biasanya semua bahan informasi berupa statistic, dan keterangan-keterangan yang dikumpulkan atau diberikan oleh orang-orang kepada seseorang, semuanya dimasukkan dalam pengertian data (apa yang diberikan) dan informasi (bahan keterangan).

5. Cara Menguji Data
Data dan informasi yang digunakan dalam penalaran harus merupakan fakta. Oleh karena itu perlu diadakan pengujian melalui cara-cara tertentu sehingga bahan-bahan yang merupakan fakta itu siap digunakan sebagai evidensi. Dibawah ini beberapa cara yang dapat digunakan untuk pengujian tersebut.
1. Observasi
2. Kesaksian
3. Autoritas

6. Cara Menguji Fakta
Untuk menetapkan apakah data atau informasi yang kita peroleh itu merupakan fakta, maka harus diadakan penilaian. Penilaian tersebut baru merupakan penilaian tingkat pertama untuk mendapatkan keyakitan bahwa semua bahan itu adalah fakta, sesudah itu pengarang atau penulis harus mengadakan penilaian tingkat kedua yaitu dari semua fakta tersebut dapat digunakan sehingga benar-benar memperkuat kesimpulan yang akan diambil.
a. Konsistensi
       Konsistensi dalam ilmu logika adalah teori konsistensi merupakan sebuah sematik dengan sematik yang lainnya tidak mengandung kontradiksi. Tidak adanya kontradiksi dapat diartikan baik dalam hal semantik atau berhubung dengan sintaksis. Definisi semantik yang menyatakan bahwa sebuah teori yang konsisten jika ia memiliki model; ini digunakan dalam arti logika tradisional Aristoteles walaupun dalam logika matematika kontemporer terdapat istilah satisfiable yang digunakan. Berhubungan dengan pengertian sintaksis yang menyatakan bahwa sebuah teori yang konsisten jika tidak terdapat rumus P seperti yang kedua P dan penyangkalan adalah pembuktian dari aksioma dari teori yang terkait di bawah sistem deduktif.
b. Koherensi
       Koherensi merupakan pengaturan secara rapi kenyataan dan gagasan, fakta, dan ide menjadi suatu untaian yang logis sehingga mudah memahami pesan yang dihubungkannya. Ada beberapa penanda koherensi yang digunakan dalam penelitian ini, diantaranya penambahan (aditif), rentetan (seri), keseluruhan ke sebagian, kelas ke anggota, penekanan, perbandingan (komparasi), pertentangan (kontras), hasil (simpulan), contoh (misal), kesejajaran (paralel), tempat (lokasi), dan waktu (kala).

7. Cara Menguji Authoritas
Seorang penulis yang objektif selalu menghidari semua desas-desus atau kesaksian dari tangan kedua. Penulis yang baik akan membedakan pula apa yang hanya merupakan pendapat saja atau pendapat yang sungguh-sungguh didasarkan atas penelitian atau data eksperimental.
    1. Tidak mengandung prasangka
        Yang tidak mengandung prasangka artinya pendapat itu disusun berdasarkan hasil    
        penelitian yang dilakukan oleh para ahli itu sendiri, atau didasarkan pada hasil-hasil
        eksperimental yang dilakukannya.
    2. Pengalaman dan pendidikan autoritas
        Pengalaman dan pendidikan yang diperolehnya harus dikembangkan lebih lanjut 
        dalam kegiatan-kegiatan sebagai seorang ahli yang diperoleh melalui
        pendidikannya.
    3. Kemashuran dan prestise
        Apakah  pendapat yang diberikan autoritas sejalan dengan perkembangan dan
        kemajuan zaman atau koheren dengan pendapat sikap terakhir dalam bidang itu.
        Untuk memperlihatkkan bahwa penulis benar-benar siap dengan persoalan yang
        tengah diargumentasikan, jangan berdasarkan pada satu autoritas saja, maka hal itu
        memperlihatkan bahwa penulis kurang menyiapkan diri.
    4. Koherensi dengan kemajuan
        Kohesi dan koherensi merupakan syarat utama kewacanaan atau tekstualitas, 
        Keduanya merupakan konsep kepaduan. Pengertian Kohesi adalah Keterpaduan
        Bentuk sedangkan koherensi adalah Kepaduan Makna. Teks atau wacana yang
        kohesif berarti setiap unsur lahirnya terpadu secara internal dalam satuan teks
        tersebut. Tegasnya, setiap komponen teks lahir, misalnya kata aktual yang didengar
        atau dibaca, saling terhubung dalam rangkaian. Unsur-unsur komponen lahirnya
        harus saling tergantung. Jadi, kehadiran yang satu serasi dengan kehadiran yang
        lain baik bentuk maupun distribusinya.
  

Sumber :  https://id.wikipedia.org/wiki/Penalaran
                http://dessydemasi.blogspot.com/2014/03/proporsisi-inferensi-implikasi.html
                http://nu2ges.blogspot.com/p/proposisi-term-penalaran-dan-permis.html


Question:
Mengapa penalaran perlu untuk sebuah karya ilmiah ?

Answer:
Karena penalaran adalah suatu proses berpikir dengan menghubung-hubungkan bukti, fakta atau petunjuk menuju suatu kesimpulan. Dengan kata lain, penalaran adalah proses berpikir yang sistematik dalan logis untuk memperoleh sebuah kesimpulan. Bahan pengambilan kesimpulan itu dapat berupa fakta, informasi, pengalaman, atau pendapat para ahli.

Dari pengertian tersebut dapat diketahui bahwa penalaran menjadi bagian penting dalam proses melahirkan sebuah karya ilmiah. Penalaran dimaksud adalah penalaran logis yang mengesampingkan unsur emosi, sentimen pribadi atau sentimen kelompok. Oleh karena itu, dalam menyusun karya ilmiah metode berpikir keilmuan yang menggabungkan cara berpikir/penalaran induktif dan deduktif, sama sekali tidak dapat ditinggalkan.

Senin, 04 Januari 2016

Manfaat Pembelajaran E-Learning (Bahasa Indonesia)




MANFAAT PEMBELAJARAN MELALUI E-LEARNING

KARYA ILMIAH

Diajukan untuk memenuhi tugas makalah mata kuliah Bahasa Indonesia dan untuk menjadi bahan diskusi dalam mata kuliah Bahasa Indonesia.




Disusun Oleh:

Panji Pridzuantino

16113820

3KA38



PROGRAM STRATA SATU

JURURSAN SISTEM INFORMASI

FAKULTAS ILMU KOMPUTER DAN TEKNOLOGI INFORMASI

2015





BAB I
PENDAHULUAN

1.1            Latar Belakang
Melalui kegiatan pembelajaran elektronik, siswa dapat berkomunikasi dengan gurunya kapan saja, yaitu melalui e-mail. Demikian juga sebaliknya. Sifat komunikasinya bisa tertutup antara satu siswa dengan guru atau bahkan bersama-sama melalui papan buletin. Komunikasinya juga masih bisa dipilih, mau secara serentak atau tidak (Melalui e-Learning, para siswa dimungkinkan untuk tetap dapat belajar sekalipun tidak hadir secara fisik di dalam kelas. Kegiatan belajar menjadi sangat fleksibel karena dapat disesuaikan dengan ketersediaan waktu para siswa. Kegiatan pembelajaran terjadi melalui interaksi siswa/ mahasiswa dengan sumber belajar yang tersedia dan dapat diakses dari internet. Sehubungan dengan beberapa hal yang telah diuraikan di atas, tulisan ini akan mencoba mengkaji tentang penyelenggaraan e-Learning sebagai salah satu alternatif pembelajaran. Tulisan ini diharapkan dapat menjadi salah satu acuan bagi lembaga-lembaga pendidikan atau pelatihan dalam merencanakan penyelenggaraan kegiatan pembelajaran melalui media elektronik.
Pada hakikatnya seorang pendidik adalah seorang fasilitator. Fasilitator baik dalam aspek kognitif, afektif, psikomotorik, maupun konatif. Seorang pendidik hendaknya mampu membangun suasana belajar yang kondusif untuk belajar-mandiri (self-directed learning). Ia juga hendaknya mampu menjadikan proses pembelajaran sebagai kegiatan eksplorasi diri. Galileo menegaskan bahwa sebenarnya kita tidak dapat mengajarkan apapun, kita hanya dapat membantu peserta didik untuk menemukan dirinya dan mengaktualisasikan dirinya. Setiap pribadi manusia memiliki “self-hidden potential excellece” (mutiara talenta yang tersembunyi di dalam diri), tugas pendidikan yang sejati adalah membantu peserta didik untuk menemukan dan mengembangkannya seoptimal mungkin. Seorang pendidik yang efektif, tidak hanya efektif dalam kegiatan belajar mengajar di kelas saja (transfer of knowledge), tetapi lebih-lebih dalam relasi pribadinya dan “modeling”nya (transfer of attitude and values), baik kepada peserta didik maupun kepada seluruh anggota komunitas sekolah. Pendidikan yang humanis menekankan bahwa pendidikan pertama-tama dan yang utama adalah bagaimana menjalin komunikasi dan relasi personal antara pribadi-pribadi dan antar pribadi dan kelompok di dalam komunitas sekolah. Relasi ini berkembang dengan pesat dan menghasilkan buah-buah pendidikan jika dilandasi oleh cintakasih antar mereka.
 Pribadi-pribadi hanya berkembang secara optimal dan relatif tanpa hambatan jika berada dalam suasana yang penuh cinta (unconditional love), hati yang penuh pengertian (understanding heart) serta relasi pribadi yang efektif (personal relationship). Dalam mendidik seseorang kita hendaknya mampu menerima diri sebagaimana adanya dan kemudian mengungkapkannya secara jujur (modeling). Mendidik tidak sekedar mentransfer ilmu pengetahuan, melatih keterampilan verbal kepada para peserta didik, namun merupakan bantuan agar peserta didik dapat menumbuhkembangkan dirinya secara optimal.
 Mendidik yang efektif pada dasarnya merupakan kemampun seseorang menghadirkan diri sedemikian sehingga pendidik memiliki relasi bermakna pendidikan dengan para peserta didik sehingga mereka mampu menumbuhkembangkan dirinya menjadi pribadi dewasa dan matang. Pendidikan yang efektif adalah yang berpusat pada siswa atau pendidikan bagi siswa.


1.2            Tujuan
Tujuan dari penulisan karya ilmiah ini adalah :
1.      Agar siswa mendapatkan pemahaman tentang pentingnya Electronic learning dalam proses pembelajaran
2.      Agar siswa mendapatkan gambaran pembelajaran tentang Electronic Learning
3.      Agar siswa dapat mengefisiensikan waktu dan biaya


1.3            Ruang Lingkup
Ruang lingkup dari pembahasan dalam karya tulis ini ialah sesuatu yang memberikan sistim pembelajaran, Pentingnya Electronic learning dalam pembelajaran, serta  Manfaat yang didapatkan dari penerapan Elektronic learning.

1.4            Sistematika Penulisan 
Pada karya tulis ini, metode penulisan digunakan adalah metode studi kepustakaan dan penelitian menggunakan kuessioner. Untuk memudahkan pembaca agar lebih mengerti penulisan karya tulis ini, maka karya tulis ini dibagi ke dalam lima bab. Bab pertama merupakan pendahuluan yang menjelaskan latar belakang, tujuan penulisan, ruang lingkup penulisan yang dilakukan, dan sistematika penulisan. Kemudian bab kedua yang merupakan isi dari pembahasan makalah tersebut. Dan bab ketiga merupakan kesimpulan dan saran.


BAB III
PENUTUP

3.1     Kesimpulan
Pengertian e-Learning atau pembelajaran elektronik sebagai salah satu alternatif kegiatan pembelajaran dilaksanakan melalui pemanfaatan teknologi komputer dan internet. Seseorang yang tidak dapat mengikuti pendidikan konvensional karena berbagai faktor penyebab, misalnya harus bekerja (time constraint), kondisi geografis (geographical constraints), jarak yang jauh (distance constraint), kondisi fisik yang tidak memungkinkan (physical constraints), daya tampung sekolah konvensional yang tidak memungkinkan (limited available seats), phobia terhadap sekolah, putus sekolah, atau karena memang dididik melalui pendidikan keluarga di rumah (home schoolers) dimungkinkan untuk dapat tetap belajar, yaitu melalui e-Learning.
Penyelenggaraan e-Learning sangat ditentukan antara lain oleh sikap positif peserta didik (motivasi yang tinggi untuk belajar mandiri), sikap positif tenaga kependidikan terhadap teknologi komputer dan internet, ketersediaan fasilitas komputer dan akses ke internet, adanya dukungan layanan belajar, dan biaya akses ke internet yang terjangkau untuk kepentingan pembelajaran/pendidikan.
Perkembangan di berbagai negara memperlihatkan bahwa jumlah pengguna internet terus meningkat; demikian juga halnya dengan jumlah peserta didik yang mengikuti e-Learning dan institusi penyelenggara e-Learning. Fungsi e-Learning dapat sebagai pelengkap atau tambahan, dan pada kondisi tertentu bahkan dapat menjadi alternatif lain dari pembelajaran konvensional. Peserta didik yang mengikuti kegiatan pembelajaran melalui program e-Learning memiliki pengakuan yang sama dengan peserta didik yang mengikuti kegiatan pembelajaran secara konvensional.
Peserta didik maupun guru dapat memperoleh manfaat dari penyelenggaraan e-Learning. Beberapa di antara manfaat e-Learning adalah fleksibilitas kegiatan pembelajaran, baik dalam arti interaksi peserta didik dengan materi/bahan pembelajaran, maupun interaksi peserta didik dengan guru serta interaksi antara sesama peserta didik untuk mendiskusikan materi pembelajaran.
Lembaga pendidikan konvensional (universitas, sekolah, lembaga-lembaga pelatihan, atau kursus-kursus yang bersifat kejuruan dan lanjutan) secara ekstensif telah menyelenggarakan perluasan kesempatan belajar bagi ‘target audience’ mereka melalui pemanfaatan teknologi komputer dan internet. Seiring dengan hal ini, peserta didik usia sekolah yang mengikuti kegiatan pembelajaran elektronik juga terus meningkat jumlahnya.

3.2     Saran
                        Berdasarkan hasil penelitian :
Ø  Sebaiknya peserta didik menggunakan pembelajaran melalui E-Learning, karena kemajuan teknologi inilah yang akan terus berkembang seiring berkembangnya jaman.
Ø  Sebaiknya guru dapat membimbing peserta didiknya untuk menggunakan E-Learning.
Ø  Seharusnya guru dapat lebih kreatif dan berinovasi mengembangkan E-Learning sebagai media pembelajaran.
Ø  Sebaiknya lembaga pendidikan formal seperti sekolah dapat membantu peserta didiknya untuk memfasilitasi pembelajaran melalui E-Learning



DAFTAR PUSTAKA

Dowling, James, et.al. 2002. “The e-Learning Hype Cycle” in e-LearningGuru.com sumber dari internet: http://www.w-learningguru.com/articles

Fauzan. “Manfaat dari e-Learning” Kompas. Rabu, 13 April 2010.

Heru, dkk. 2010. “Ber-e-Learning secara praktis dengan ESFINDO” . Jakarta : Fakultas Ilmu Komputer UI. Hal 16

Nadhirin. 2008. “Metode Pembelajaran Efektif” sumber dari internet: http://www.nadhirin.blogspot.com

Alim. 2009. “Model Pembelajaran” sumber dari internet: http://www.e-learning.unesa.ac.id

Media Pembelajaran Interaktif  http://www.media-grafika.com/

Farhan. 2011. “Penilaian Proses dan Hasil Belajar” sumber dari internet:
http://www. farhan7.blogspot.com

Pengertian E-Learning http://www.elearning.web.id/

Farchan. 2010. “Jenis-jenis E-Learning” sumber dari internet: http://1001farchan.blogspot.com/

Dyah, dkk. 2008. “penerapan e-learning disekolah tidak sekedar pengembangan dan implementasi teknologi”. Jakarta : Dian Rakyat, hal 29

Kevin, dkk. 2010. “Kemajuan Teknologi dengan menggunakan E-Learning”. Bandung : Binacipta, hal 13


Senin, 09 November 2015

DIKSI



Diksi Pada Iklan

            Diksi merupakan pilihan kata yang digunakan dan gaya ekspresi agar selaras dengan tepat untuk mengukapkan gagasan sehingga menimbulkan efek tertentu yang diinginkan, saya akan membahas diksi pada iklan sebagai berikut :


IKLAN 1


Pada gambar iklan tersebut menunjukkan bahwa botol air mineral tersebut memberikan gambar kemasan yang sangat unik, sehingga dapat menarik pelanggan. Kata “danone dan aqua” merupakan kata khusus yang mengacu kepada kata yang lebih konkrit.  Kata “air minum” merupakan kata konkrit, karena kata yang menunjuk pada sesuatu yang dapat dilihat langsung oleh panca indera. Sementara itu kata “dengan 27 kali penyaringan” merupakan kata denotasi, karena makna kata tersebut menunjuk pada suatu konsep, referen atau ide yang sebenarnya.


IKLAN 2


Pada iklan tersebut menunjukkan botol air mineral tersebut mengacu pada produk air mineral tanpa gambar yang lainnya. Kata “kurang fokus, salah naik motor?” merupakan kata Konotasi, karena kata tersebut mengandung arti tambahan, imajinasi, atau nilai rasa tertentu, bersifat emosional yang ditimbulkan didukung gambar seorang pria yang sedang kebingungan. Kata tersebut dapat mengartikan konsumen bahwasannya jika kekurangan air dalam tubuh, maka konsentrasi kita akan terpecah dan tidak fokus dikarenakan dehidrasi. Kata “#ada aqua” merupakan kata populer yang menunjuk langsung pada produk tersebut, produk yang sudah dikenal masyarakat.


IKLAN 3


Pada iklan tersebut menunjukkan gambar botol air mineral dengan kata dikemasan adalah produknya. Kata “beda segarnya” merupakan kata konotasi karena kata tersebut mengandung arti tambahan, imajinasi, atau nilai rasa tertentu, bersifat emosional yang ditimbulkan didukung gambar pegunungan yang menggambarkan kesegarannya air di pegunungan. Kata “bukti terlindung mineralnya” merupakan kata abstrak karena kata tersebut sukar digambarkan karena referensinya tidak dapat diserap oleh pancaindera manusia, kata abstrak tersebut merujuk pada pemikiran(kecurigaan,penetapan,kepercayaan).

#KESIMPULAN
Dari ketiga iklan tersebut mengandung jenis diksi yang berbeda-beda. Pembuat iklan dalam mempromosikan produk tertentu, agar dapat bersaing dengan produk yang lainnya, membuat sebuah iklan harus dengan menarik, kreatif, berinovasi sehingga dapat mudah dipahami dan dimengerti oleh konsumen.

Senin, 12 Oktober 2015

Bahasa Indonesia

Penulisan Huruf dalam Bahasa Indonesia


HURUF KAPITAL
Dalam Pedoman Umum EYD terdapat beberapa kaidah penulisan huruf kapital. Berikut ini disajikan beberapa hal yang masih perlu kita perhatikan.
  • Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama pada awal kalimat.
  • Contoh: Dia mengantuk; Apa maksudnya?; dll.
  • Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung.
  • Contoh: Adik bertanya:”Kapan kita pulang?”
  • Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam menulis ungkapan yang berhubungan dengan hal keagamaan, kitab suci, dan nama Tuhan, termasuk kata ganti untuk Tuhan.
Contoh: Allah, Yang Mahakuasa, Atas rahmat-Mu (bukan atas rahmatmu), dll.
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama untuk menuliskan kata-kata, seperti, imam, makmum, doa, puasa, dan misa.
  • Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang.
    Contoh: Sultan Hasanuddin, Nabi Muhammad, Imam Hanafi, dll.
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan jika tidak diikuti nama orang.
Contoh: Seorang nabi adalah utusan Tuhan, Sebagai seorang sultan, dia patut dihormati, dll.
  • Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang, nama instansi, atau nama tempat.
Contoh: Gubernur Bali, Gubernur Fauzi Bowo, Kepala Kantor Wilayah, dll.
Nama jabatan dan pangkat itu tidak ditulis dengan huruf kapital jika tidak diikuti nama orang, nama instansi, atau nama tempat.
Contoh: Siapa yang dilantik menjadi gubernur?, Ayah dia seorang jenderal bintang tiga.
  • Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku, dan bahasa.
Contoh: bangsa Indonesia, suku Banjar, bahasa Perancis.
Perhatikan penulisan berikut!
Mengindonesiakan kata-kata asing; keingris-ingrisan
Perhatikan juga bahwa yang dituliskan dengan huruf kapital hanya nama bangsa, nama suku, dan nama bahasa, sedangkan kata bangsa, suku, dan bahasa ditulis dengan huruf kecil saja.
Contoh: bangsa Indonesia; suku Banjar; bahasa Perancis.
  • Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun, bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah.
Contoh: tahun Hijriah; bulan Agustus; hari Waisak; perang Salib; Republik Indonesia.
  • Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama khas geografi.
Contoh: Sungai Barito; Danau Toba; Asia Tenggara; Pulau Bangka; Gunung Semeru.
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata-kata umum:
Contoh: dia hanyut di sungai; gunung mana yang akan kita daki?
  • Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama resmi badan, lembaga pemerintahan, dan ketatanegaraan, serta nama dokumen resmi.
Contoh: Majelis Permusyawaratan Rakyat; Undang-Undang Dasar 1945.
Tapi perhatikan!
menurut undang-undang dasar kita, Saudara dapat dijatuhi hukuman berat.
  • Huruf kapital dipakai dalam singkatan nama gelar dan sapaan.
Contoh: Dr. M.A. S.H. Sdr.
  • Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk hubungan kekerabatan seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik, dan paman yang dipakai sebagai kata ganti sapaan.
Contoh: Kapan Bapak berangkat?; Mau kemana, Bu?
Namun, perhatikan!
*Kita harus menghormati ibu kita!
  • Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata ganti orang kedua (Anda)
Contoh: Tahukah Anda tentang kabar itu?; Saudara diundang ke rumah
HURUF MIRING
  • Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip dalam keterangan.
Contoh: Sudahkah anda membaca koran Kompas hari ini?
  • Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menuliskan kata nama ilmiah atau ungkapan asing.
Contoh: Nama latin untuk tanaman padi adalah Oriza sativa.
  • Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, atau kelompok kata.
Contoh: Huruf pertama kata dunia adalah d